Showing posts with label Spesies. Show all posts
Showing posts with label Spesies. Show all posts

KUKANG, Primata yang Terlupakan

Istilah primata mungkin bukan hal yang baru di telinga masyarakat Indonesia. Setelah primata-primata besar lainnya seperti Orang Utan (Pongo pygmaeus) dan Owa Jawa (Hylobathes moloch) dinyatakan sebagai satwa yang terancam punah. Sementara itu, ada salah satu jenis primata yaitu Kukang (Nycticebus coucang) yang sedang menanti antrian menuju kepunahannya. Keterbatasan informasi mengenai kukang, yang menyebabkan satwa ini sedikit terlupakan. Tidak banyak pula literature yang diterbitkan sebagai hasil dari penelitian yang intensif.

Kukang kadang-kadang disebut pula malu-malu adalah jenis primata yang bergerak lambat. Warna rambutnya beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman. Pada punggung terdapat garis coklat melintang dari belakang hingga dahi, lalu bercabang ke dasar telinga dan mata. Berat tubuh 0,375-0,9 kg, panjang tubuh dewasa 19-30 cm.

Di Ind onesia, satwa ini dapat ditemukan di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Satwa ini menjadi incaran untuk dijadikan hewan peliharaan.

Pengelompokan
Berasal dari Ordo Primate, kukang menempati Sub Ordo Prosimian dan Family Lorisidae. Terdapat sedikitnya tiga spesies di Asia, yaitu slow loris (Nycticebus coucang), pygmy loris (Nycticebus pygmaeus) dan slender loris (Loris tardigardus).

Empat sub spesies dari slow loris yang ada, antara lain Nycticebus coucang bengalensis yang terdapat di Assam, Myanmar, Thailand dan Indo-Cina. Secara morfologi, berukuran besar dengan berat ± 2000g dan berwarna cerah. Nycticebus coucang, tersebar di Malaysia, Sumatera, Thailand bagian Selatan, sebelah Utara Kepulauan Natuna. Berukuran lebih kecil daripada Nycticebus coucang bengalensis, berwarna coklat terang dengan bagian dahi yang lebih gelap. Ketiga, Nycticebus coucang menagensis yang dapat dijumpai di daerah Borneo, Bangka dengan ukuran tubuh relative lebih kecil jika dibandingkan dengan Nycticebus coucang coucang. Terakhir, Nycticebus coucang javanicus, sesuai dengan namanya penyebarannya di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada sub spesies lainnya, dengan corak yang tebal pada bagian dorsal (punggung) yang menjadikan perbedaan yang cukup mencolok.

Di Indonesia belum ditemui adanya skema pasti mengenai keberadaan dan distribusi satwa ini. Penduduk lokal bahkan kerap kali keliru menganalogikannya dengan kus-kus. Hal ini dikarenakan keterbatasan dalam penyampaian informasi.

Perilaku
Seperti yang telah dikemukakan di atas, sedikit sekali penelitian khususnya mengenai perilaku kukang di habitat alaminya. Kecenderungan sebagai primata nocturnal (aktif malam hari) dan arboreal (berada di atas pohon) yang membuat mereka sebagai objek yang cukup sulit untuk diteliti.

Kukang terkenal dengan kehidupan malamnya (nocturnal) dan memakan beberapa buah-buahan dan sayuran, juga beberapa insecta, ma- mmalia kecil dan bahkan burung. Umumnya mereka meraih makanan de- ngan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi ta- ngannya dan menjiltinya.

Layaknya hewan-hewan nocturnal lainnya, pada siang hari kukang beristirahat atau tidur pada cabang-cabang pohon. Bahkan ada yang membenamkan diri ke dalam tumpukan serasah tetapi hal ini sangat jarang ditemui. Satu yang unik dari kebiasaan tidur kukang yaitu posisi dimana mereka akan menggulungkan badan, kepala diletakkan diantara kedua lutut/ekstrimitasnya.

Ketika malam hari tiba, kukang mulai melakkukan aktivitasnya. Mereka bergerak dengan menggunakan 4 anggota tubuhnya, pergerakan seperti ini disebut dengan quadropedal ke segala arah baik itu peregrakan vertical ataupun horizontal (climbing). Pada hewan-hewan yang hidup di penangkaran, mereka bergerak memanjat dan mengitari kandang disebut denan aksplorasi. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya di alam, kukang yang hidup di penangkaran pun menciumi segala sesuatu / objek yang ditemuinya serta melakukan penandaan / marking dengan urine.


Berdasarkan rekaman hasil penelitian di lapangan,diketahui bahwa kukang hidup secara soliter, walaupun di beebrapa saat ditemui adanya interaksi namun tidak lebih sebatas fase tahapan reproduksi. Masa estrus pada kukang berkisar antara 30-40 hari. Pada hewan betina, jika memasuki masa estrus maka akan lebih sering mengeluarkan suara / vokalisasi berupa siulan. Selain itu, terjadi pembengkakan pada area genitalianya. Jika jantan men dengarkan dan tertarik akan siulan betina, maka jantan kemudian mendekati betina dan me- ngadakan kopulasi. Masa kehamilan atau gestation periode selama 176 sampai 198 hari atau kurang lebih selama 6 bulan.

Status
Sejauh ini, kukang dikategorikan sebagai satwa yang rentan terhadap kepunahan (Vulnarable) berdasarkan IUCN dan termasuk ke dalam Appendix II, CITES. Walaupun demikian, namun pada kenyataannya masih banyak kukang yang didapati dipelihara bahkan diperjual belikan di pasaran. Selain itu, pembukaan lahan dan praktek illegal logging yang semakin marak juga memicu hilangnya habitat alami satwa ini. Akankah kita hanya menanti dan tetap berdiam diri untuk menyaksikan kukang yang begitu indah ini masuk ke dalam kategori Punah? Oleh karena itu, kita sebagai insan yang diberi akal dan budi pekerti dari Tuhan YME selayaknya ikut berpartisipasi dalam tindakan yang nyata guna menahan bahkan menghentikan laju pengrusakan dan perburuan keanekargaman hayati yang kita miliki, karena Konservasi itu untuk semua.

(dikutip dari berbagai sumber). By : Vina / NEF Scholarship

» Read Full Article

si Huna dari air tawar

Huna atau disebut juga Freshwater Crayfish (di Indonesia disebut Lobster Air Tawar), mempunyai sebaran yang sangat luas hampir di seluruh dunia. Keanekaragaman jenis huna mencakup kurang lebih 500 spesies yang terbagi dalam tiga famili, yaitu Astacidae dan Cambaridae di belahan dunia bagian Utara, serta Parastacidae di belahan dunia bagian Selatan.

Jenis Cherax tersebar hampir di seluruh Australia dan Papua Nugini. Dari jenis Cherax terapat 3 huna komersial, yaitu : yabby (Cherax destructor), redclaw (Cherax quadricarinatus, Von Martens) , dan maroon (Cherax tenuimanus). Di Papua Nugini terdapat jenis-jenis huna yang hidup di aliran-aliran sungai Lembah Baliem, antara lain Huna Biru (Cherax albertisi) , C. lorentzi, C. monticola dan C. Lakembutu.

Klasifikasi Huna
Klasifikasi Huna adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthopoda
Sub phylum : Mandibulata
Classis : Crustacea
Sub classic : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Parastacidae
Genus : Cherax
Species : Cherax quadricarinatus
Cherax albertisi

Morfologi Huna
Huna mempunyai morfologi seperti udang. Badan huna terbagi menjadi 2 bagian yaitu Cephallothorax, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat sepasang antena dan sepasang antennula yang berfungsi sebagai reseptor, sepasang mata dan rostrum yang terletak pada bagian anterior. Huna juga mempunyai cangkang keras yang mengandung kalsium.

Pakan Huna
Huna merupakan hewan omnivora atau pemakan tumbuhan dan hewan. Pada habitatnya aslinya, huna menyukai cacing, udang-udangan kecil, larva serangga, keong-keong yang kecil, daun tanaman air yang lunak, plankton dan detritus.

Pada huna betina terdapat brood chamber yang berfungsi sebagai ruang penetasan telur, pada bagian kaki renangpun terdapat bulu-bulu kecil halus, yang berfungsi sebagai tempat melekatnya telur oleh karena itu selama masa breeding huna betina tidak banyak melakukan aktivitas. Pada bagian ekor terdapat dua pasang sirip ekor (uropoda) yang berfungsi untuk mengayuh dan telson yang terletak pada bagian tengah dari ekor.

Huna mempunyai ciri perbedaan antara kelamin jantan dan betina, yaitu pada huna jantan terdapat tonjolan pada kaki ke 4, sedangkan pada huna betina terdapat sepasang bulatan pada kaki jalan ke 3 yang merupakan tempat keluarnya telur

Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Pertumbuhan huna mulai dari larva benih sampai tingkat juwana (dewasa) memiliki kesamaan morfologi. Larva huna sudah memiliki karakteristik berupa capit dan karapas yang keras, serta sifat kanibalisme, sehingga pada stadium larvapun huna sudah dapat dibedakan dengan jenis udang air tawar lainnya. Huna mengalami empat fase kehidupan yaitu, telur, pasca larva, juvenil dan juwana (induk). Huna memijah pada malam hari pada saat suasana tenang dan tidak ada gangguan. Kondisi ini sesuai dengan sifat huna yang nocturnal.
Huna memiliki memiliki siklus bertelur 4 kali dalam setahun, sekali bertelur induk betina berukuran 15 cm memiliki fekunditas (potensi jumlah telur) antara 300-500 butir. Pada hari pertama telur diletakkan pada brood chamber, telur berwarna kuning muda, 14 hari kemudian telur berubah warna menjadi kuning sindur sebagai tanda perkembangan embrio, menginjak minggu ketiga telur berubah warna menjadi merah muda, dan akhirnya pada minggu keempat menjadi merah tua sampai kecoklatan. Pada akhir minggu keempat telur mulai menetas menghasikan pasca larva (PL) yang sudah menyerupai huna dewasa.

Pasca larva mengalami ganti kulit beberapa kali, karena harus bertubuh dan berkembang menjadi dewasa sedang di sisi lain kulitnya yang terdiri dari bahan kitin tidak dapat berkembang mengikuti perubahan ukuran tubuh. Proses ganti kulit (moulting) diawali dengan robeknya kulit lama pada bagian punggung ruas pertama abdomen persis di belakang cephallothorax . Tubuh yang dibalut kulit baru yang terus berkembang memperbesar robekan tersebut sehingga cephallothorax lama pecah dan cephallothorax baru keluar , dengan meggunakan kaki jalan yang sudah keluar dari kulit lama dengan bergerak menarik bagian abdomen dari balutan kulit lama

Proses pergantian kulit mengalami kegagalan pada saat pengeluaran cephallothorax baru apabila huna tidak cukup mendapat makanan sebelum proses ganti kulit berlangsung. Kegagalan ganti kulit selalu diikuti dengan kematian. (Di kutip dari berbagai sumber).
By : Gumilar / Volunteer LEMBAR Indonesia.

» Read Full Article

Si Kupu-kupu Cantik dari Bawah Laut

Snorkeling di Gili Lawang dan Gili Sulat yang lalu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi kami, karena kami menjumpai banyak biota laut yang unik-unik. Salah satu makhluk yang menarik perhatian kami (terutama saya) adalah ‘Nudicutie Nudibranch’. Menarik, karena ukuran tubuhnya yang mini dengan warna mantel yang cantik. Karena kecantikannyalah yang membuat banyak orang menganalogikan Nudibranch sebagai kupu-kupu bawah laut.
Nudibranch merupakan anggota dari kelas Gastropoda, subkelas Opisthobranchia (siput laut). Nudibranch termasuk Gastropoda yang tidak dilengkapi oleh cangkang untuk menutupi tubuhnya yang lunak, oleh karena itu Nudibranch dikenal sebagai siput telanjang (naked slug). Sekilas Nudibranch terlihat lemah tanpa perlindungan dari cangkang, namun pada kenyataannya, Nudibranch memiliki pertahanan-pertahanan khusus untuk melindungi tubuhnya yang lunak di lautan yang penuh dengan predator. Beberapa dari mereka ada yang mensekresikan asam dari sel epidermal khusus yang terdapat pada mantelnya, sehingga mereka tidak enak untuk dimakan (terutama bagi ikan). Selebihnya ada yang mampu mengeluarkan racun (toxic) yang diperoleh dari sponge yang mereka makan.
Warna tubuh (mantel) Nudibranch yang mencolok dan terang digunakan sebagai penanda bagi predator bahwa mereka berbahaya (beracun) sehingga tidak enak untuk dimakan. Selain itu berfungsi juga untuk bersembunyi dari predator dengan berkamuflase (penyamaran) menyerupai substrat yang mereka tempati. Warna mantel berasal dari apa yang mereka makan, misalnya pada red Nudibranch yang memakan red sponge.
Tidak adanya cangkang pada Nudibranch, menyebabkan mereka lebih bebas untuk bergerak, baik saat merayap di dasaran laut maupun saat berenang. Namun umumnya mereka bergerak lambat.
Phyllidia varicosa cukup familiar, dapat ditemukan di setiap belahan laut di dunia. Namun distribusi terbesarnya ialah di Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Yang menarik dari P. varicosa adalah corak mantelnya yang unik dengan latar belakang berwarna biru dan ornamen bintil-bintil kuning dan hitam disekelilingnya. Selain itu mereka tidak memiliki sepasang insang dorsal yang secara umum terdapat pada jenis Nudibranch yang lain.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Nudibranch akan selalu menarik perhatian para diver saat melakukan diving maupun snorkeling. Bentuknya yang mini nan unik serta corak, warna dan ornamen pada mantelnya yang cantik terlihat seperti hasil kreasi dari pelukis berbakat. They are so colorful… Mungkin Gili Lawang dan Gili Sulat menjanjikan banyak jenis Nudibranch lain yang menunggu untuk dieksplorasi..­.^_^

Pengamatan yang kami lakukan di Gili Lawang dan Gili Sulat berhasil menjumpai salah satu jenis Nudibranch dari family Phyllidiidae yaitu Phyllidia varicosa.

Anggota dari family ini dapat dikenali berdasarkan mantelnya yang berbintil-bintil dan absennya insang dorsal. Semua Phyllidiidae adalah hermaprodit, yang berarti pada satu individu terdapat dua organ reproduksi, yaitu jantan dan betina.
Phyllidia varicosa cukup familiar, dapat ditemukan di setiap belahan laut di dunia. Namun distribusi terbesarnya ialah di Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.
Yang menarik dari P. varicosa adalah corak mantelnya yang unik dengan latar belakang berwarna biru dan ornamen bintil-bintil kuning dan hitam disekelilingnya. Selain itu mereka tidak memiliki sepasang insang dorsal yang secara umum terdapat pada jenis Nudibranch yang lain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Nudibranch akan selalu menarik perhatian para diver saat melakukan diving maupun snorkeling. Bentuknya yang mini nan unik serta corak, warna dan ornamen pada mantelnya yang cantik terlihat seperti hasil kreasi dari pelukis berbakat. They are so colorful…

Mungkin Gili Lawang dan Gili Sulat menjanjikan banyak jenis Nudibranch lain yang menunggu untuk dieksplorasi.

By Acidz / Scholarship NEF
(Sumber : Nudibranchs and Sea Snails : Indopasific Field Guide).

» Read Full Article

KAJIAN MEKANISME DAN FISIOLOGI TERBANG Capung Anisoptera

Capung merupakan anggota kelas serangga dan termasuk dalam ordo Odonata. Pada kedua tingkat kehidupannya (nimfa dan dewasa), capung adalah predator serangga yang menempati tingkat teratas rantai makanan.
Manning (2004) menyebutkan terdapat sekitar 5000 jenis capung di seluruh dunia. Indonesia memiliki 750 jenis capung, beberapa diantaranya endemik di Sulawesi, misalnya Gynacantha penelope subfamili Aeshnidae (Susanti, 1998; Paulson, 2003).
Capung memiliki kemampuan terbang yang cepat, akurat dan terhebat di dunia hewan. Dilengkapi dengan dua pasang sayap yang masing-masing dapat mengepak secara independen, capung tidak hanya mampu terbang dengan cepat, tetapi juga mampu bergerak mundur, menghentikan terbangnya secara mendadak, lalu mengapung sejenak di udara, untuk kemudian mengubah arah dan melesat dengan cepat ke arah lain. Capung mampu menempuh perjalanan dengan kecepatan mencapai 60 km/jam dengan gerakan yang lincah dan gesit (Putra, 1994; Imes, 2000; Silsby, 2004).
Dalam siklus hidupnya, capung mengalami beberapa kali perubahan bentuk sederhana untuk mencapai dewasa, yang disebut metamorfosis heterometabola (Suzuki, 1992). Penyimpangan terbesar metamorfosis heterometabola terdapat pada Odonata dengan stadium pradewasa hidup di air, disebut hemimetabola. Secara umum capung memiliki fase-fase kehidupan yang meliputi: telur - nimfa - dewasa (Partosoedjono, 1985).


Gambar 1 Siklus Hidup Capung (Susanti, 1998)

Para ekolog melihat capung sebagai se rangga bioindikator kualitas lingkungan. Artinya capung dapat digunakan untuk memantau kualitas air di sekitar lingkungan hidup kita. Jadi secara tidak langsung kehadiran capung dapat menandakan bahwa perairan di sekitar kita masih bersih (Susanti, 1998).
Selain peran alami capung di alam, keberadaan capung dapat memiliki arti tersendiri di Indonesia misalnya, kemampuan gerak capung menjadi dasar inspirasi seni tari. Di Jepang menganggap capung sebagai lambang kejayaan dan semangat. Mosquito hawk adalah julukan capung di Amerika karena merupakan predator utama nyamuk. Berbeda dengan Eropa yang menganggap capung sebagai pengganggu. Padahal capung adalah jenis yang sama sekali tidak berbahaya (Grzimek, 1975; Hoeve, 1996; Trueman dan Rowe, 1997; Susanti, 1998; Manning, 2004).
Kemampuan Terbang
Serangga memiliki kemampuan terbang pada berbagai tingkat kecepatan. Capung dengan ukuran yang relatif besar mampu menempuh kecepatan hingga 58 km/jam dengan frekuensi kepak sayap yang tergolong rendah yaitu 20-30 bps (beat per second). Hal ini menandakan efisiensi energi pada capung, dibandingkan lebah madu yang memiliki kecepatan 15 km/jam dengan frekuensi kepak 280-310 bps atau pada lalat dengan frekuensi kepak sayap 180-200 bps (Davies, 1992; Borror, 1996; Manning, 2004).
Kemampuan terbang pada capung didukung penuh oleh karakteristik organ-organ yang dimiliki. Keseluruhannya memberikan kontribusi terhadap capung untuk memanuver-manuver gerakan secara cepat dan tepat serta berkaitan erat dengan mekanisme terbang yang membutuhkan pengendalian cekatan (Putra, 1994). Organ-organ yang berperan penting dalam medukung fungsi terbang antara lain: sayap, otot-otot terbang, mata, abdomen dan organ sensor.
Mekanisme Terbang
1. Persiapan terbang
Capung aktif terbang antara pukul 08.00-10.00 dan selalu mengawali terbang dengan mekanisme menghangatkan otot-otot terbang dan mengumpulkan cahaya matahari (Ross, 1968; Imes, 2000; Aswari, 2003).
2. Lepas Landas (take off)
Suhu internal optimal merupakan stimulan yang kuat untuk memulai terbang (lepas landas). Selain itu organ visual juga berperan terutama dalam menentukan posisi yang tepat untuk memulai terbang (Nayar, 1976; Rainey, 1976).
3. Kepak ke atas dan ke bawah
Tiap pasang sayap mengepak secara independen. Gerak sayap ke atas disebabkan kontraksi otot vertikal di dalam toraks yang bekerja secara tidak langsung sedangkan gerak sayap ke bawah dihasilkan oleh kontraksi otot pada dasar sayap secara langsung (Barnes, 1990).



Gambar 2. Mekanisme Pergerakan Sayap (Nachtigall, 1968)

4. Gaya aerodinamis
Gaya aerodinamis adalah gaya yang bekerja di udara yang dihasilkan saat udara bertiup di atas. Secara keseluruhan, hasil akhir yang diperoleh adalah sayap mampu membelokkan massa udara dan mempercepat terbang (Nachtigall, 1968).
5. Frekuensi dan irama kepak sayap
Frekuensi kepak sayap bervariasi dari satu jenis ke jenis lain, bahkan pada individu yang sama pada waktu yang berbeda (Imes, 2000). Setiap jenis juga memiliki frekuensi resonansi yang spesifik sehingga dapat meminimalkan kebutuhan energi (Murdoch, 2002).
Perkiraan tentang rataan frekuensi kepak sayap dapat diperoleh secara acoustic: tingkatan suara yang dihasilkan sayap, kymograph: berhubungan dengan sinematografi atau dengan metode stroboscopic: fotografi kecepatan tinggi (Gardiner, 1972).
6. Pengaturan sayap depan dan sayap belakang
Sayap bekerja lebih efisien saat udara tidak bergolak. Gerak independen kedua pasang sayap menimbulkan masalah karena kepak sayap menghasilkan perputaran/ pergolakan udara dengan menciptakan daerah bertekanan udara rendah di depan dan bawah tubuh, serta meningkatkan tekanan udara di bagian belakang dan bawah tubuh (Gardiner, 1972).
Capung mengembangkan tipe penerba ngan efisien untuk mengatasi perputaran udara yang diakibatkan oleh pasangan sayap anterior, yaitu dengan melakukan pembalikan urutan kepak sayap. Pasangan sayap posterior dikepakkan terlebih dahulu sehingga bertemu dengan udara yang belum terganggu oleh gerakan pasangan sayap anterior (Gambar 13) (Wigglesworth, 1998; Blum, 1985).



Gambar 3. Gerak Ujung-ujung Sayap Capung
( Nachtigall, 1968)
7. Gerakan ujung sayap
Gerakan ujung sayap pada serangga umumnya dapat dianalogikan sebagai “Gerak Harmonis Sederhana” dimana panjang saat kepak ke atas dan ke bawah relatif sama. Me nyimpang dari hal ini, capung memiliki kepak ke bawah lebih pendek. Hal ini dapat berubah sewaktu-waktu dan terjadi karena tuntutan aerodinamis (Gambar 13) (Murdoch, 2002).
8. Meluncur (gliding)
Capung adalah peluncur ulung yang dapat mempertahankan peluncuran hingga jarak cukup jauh. Hal ini merupakan kehebatan tersendiri karena capung harus memperoleh keseimbangan yang tepat di antara kedua pasang sayap yang tidak terkait dan bergerak secara independen (Nachtigall, 1968).
9. Mengubah arah terbang
Capung memiliki tiga cara utama untuk merubah arah saat terbang, pertama dengan memvariasikan frekuensi masing-masing sayap secara independen. Kedua gerak amplitudo sayap membuat salah satu sisi tubuh lebih ringan. Terakhir adalah dengan merubah orientasi, sayap capung memperoleh percepatan sudut vektor yang berbeda sehingga dapat merubah arah (Murdoch, 2002).
Ketiga proses ini memungkinkan terja dinya perubahan arah secara cepat. Capung tidak memilih salah satu dari metode setiap saat, tetapi memilih dan menggunakan di antara ketiganya secara random (Murdoch, 2002).
10. Mendarat (landing)
Kaki-kaki capung merapat ke tubuh ketika terbang, tetapi sesaat sebelum mendarat, kaki-kaki membentang ke depan sehingga capung dapat mendarat di atas keenam kakinya (Nayar, 1976).
Fisiologi Terbang
Terbang bergantung pada beberapa faktor : Cahaya matahari, kelembaban dan suhu lingkungan adalah faktor pembatas di alam. Faktor internal seperti : suhu tubuh, perkembangan otot-otot terbang, ketersediaan sumber energi, aktivitas makan dan status reproduksi juga berpengaruh terhadap terbang. Oleh karena itu, capung harus mengendalikan penggunaan energi, mengatur kecepatan, memanfaatkan angin dan mengatur suhu tubuh pada saat yang bersamaan (Nayar, 1976; Barnes, 1990).
Pengendalian Terbang
Pengendalian terbang capung berlangsung dari dalam ke luar, disebut “ritme endogenus”. Peran organ-organ eksternal secara prinsip terbatas sebagai pemberi informasi tentang gaya aerodinamis udara selama terbang, pengatur kecepatan terbang dan pengendali sikap tubuh saat di udara (Nachtigall, 1968).
Capung mengendalikan keseimbangan (equilibrium) dengan menggunakan tiga reaksi yang berbeda: [1] respon dorsal yang ringan, [2] reaksi optomotor (alat untuk menstabilkan posisi rotasi kepala saat melihat) yang baik terhadap pola penglihatan umum, [3] dan stimulasi reseptor (dynamic organ) pada leher oleh titik pusat (inertia) kepala (Wigglesworth, 1998).
Singkatnya, capung merupakan serangga terbang pertama yang ada di muka bumi. Secara struktural karakter yang dimiliki merupakan hasil pengembangan karakter primitif menjadi karakter yang terspesialisasi untuk mendukung fungsi terbang.
Kelebihan utama yang dimiliki oleh capung adalah perpaduan kompleks antara mekanisme, fisiologi serta teknik yang baik sehingga membentuk sebuah fungsi kerja yang efektif dan efisien. (dikutif dari berbagai sumber).
By : Dewi Suprobowati / Volunteer LEMBAR)

» Read Full Article

Mengenal Badak

Di dunia terdapat lima jenis badak yang masih hidup, yaitu Diceros bicornis (black rhinoceros atau badak hitam), Ceratotherium simum (white rhinoceros atau badak putih), Rhinoceros unicornis (badak India), Rhinoceros sundaicus (badak Jawa) dan Dicerorhinus sumatrensis (badak Sumatera).
Badak Jawa yang kita ketahui saat ini hanya tersisa di Semenanjung Ujung Kulon, dengan populasinya yang sangat terbatas yaitu 40-50 ekor, badak Jawa sebelumnya menempati penyebaran yang cukup luas meliputi Bengal sampai Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Pulau Sumatera, dan Pulau Jawa.
Badak Sumatera mengalami nasib yang lebih baik dilihat dari populasinya, namun ancaman kepunahan untuk jenis badak Sumatera ini juga semakin meningkat. Populasi di dunia berkisar 400-700 ekor, dengan kehilangan populasi setiap tahunnya mencapai 10 persen. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir angka penurunan populasi meningkat hingga mencapai 50%. Di  Sumatera populasinya ditaksir sekitar 200-300 ekor tersebar di Taman Nasional Gunung Leuseur, TN Kerinci Seblat, TN Bukit Barisan Selatan, TN Nasional Way Kambas.
Aktivitas manusia merupakan acaman potensial kelestarian badak Sumatera di masa mendatang. Faktor utama rendahnya populasi badak sumatera di dunia adalah perburuan liar, perdagangan cula badak, yang sesungguhnya sudah dilarang secara internasional, diduga menjadi penyebabnya. Harga cula yang tinggi membuat para pemburu nekat melanggar peraturan. Selain itu konversi lahan, penebangan liar, dan perambahan hutan. Badak-badak itu terdesak dan semakin terisolasi (doomed) dari habitat aslinya. Jumlah ini tidak memungkinkan bagi badak Sumatera untuk berkembang biak secara alami atau tidak memiliki viabilitas dalam jangka panjang.

» Read Full Article