Showing posts with label Konservasi. Show all posts
Showing posts with label Konservasi. Show all posts

Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi merupakan kawasan dengan ekosistem yang spesifik, yaitu kawasan hutan tropis dengan nuansa volkan (dipengaruhi oleh adanya aktivitas gunung berapi). Karakteristik ekosistemnya memiliki berbagai variasi, mulai dari ekosistem montana, tropical montain forest, hutan sekunder, hingga hutan tanaman.
 
Gunung Merapi merupakan kawasan unik dengan ke- khasan geosystem, biosystem dan sociosystem. Kawasan ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai sumber air bersih, sumber udara bersih dan kenyamanan lingkungan. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air dengan beberapa hulu sungai yang mengairi tidak saja kawasan Merapi, tetapi kawasan lain di bawahnya, sehingga Gunung Merapi sering disebut sebagai "Jantung atau Nyawa" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara sosio kultural Gunung Merapai dipercayai memiliki keterkaitan secara supranatural dengan masyarakat Gunung Merapi. Sehingga banyak upacara ri- tual yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan Gunung Merapi.
Sejak tahun 2004, Menteri Kehutanan  merubah fungsi kawasan  Hutan Lindung, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada kelompok hutan  Gunung Merapi seluas ± 6.410 hektar, yang terletak di Kabupaten Magelang,  Boyolali dan Klaten,  Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Taman Nasional Gunung Merapi.

Fisik
Secara geologis, wilayah Taman Nasional Gunung Merapi terletak pada perpotongan antara dua sesar, yaitu sesar transversal dan sesar longitudinal Pulau Jawa, dan batuan utama penyusun Gunung Merapi terdiri dan 2 fase,  yaitu :
1. endapan vulkanik Gunung Merapi Muda, yang tersusun oleh tufa, lahar, breksi, dan lava andesitis hingga basaltis yang penyebarannya merata di  seluruh wilayah Gunung Merapi.
2. endapan vulkanik kwarter tua yang terdapat secara lokal pada topografi perbukitan kecil di sekitar Gunung Merapi Muda, yang merupakan bagian dari aktivitas Gunung Merapi Tua, yaitu terdapat di bukit Gono, Turgo, Plawangan, Maron dan dinding bagian timur kawah Gunung api Merapi (Geger Boyo).

Topografi
Bentuk bentang lahan yang ada sangat khas, yaitu puncak Merapi dengan lerengnya yang menuju ke segala arah dengan lereng yang sangat curam di wilayah yang dekat dengan puncak dan semakin melandai kearah bawah. Le- reng Merapi bagian timur (Selo) relatif lebih terjal, sementara di bagian barat dan utara (Babadan, Kinahrejo) relatif lebih landai. Arah letusan gunung api sangat jarang menuju ke timur, yang paling sering menuju ke arah barat daya. Proses letusan sering terjadi, dan lereng barat sering menerima dampak letusan, sehingga lereng barat akan semakin landai.

Wilayah puncak Gunung Merapi sampai ke- tinggian 1.500 m dpl, merupakan daerah terjal dengan kemiringan lebih dari 30º. Wilayah yang paling luas adalah kawasan dengan kemiringan 12º - 30º  terletak pada ketinggian 750 - 1.500 m dpl, dan daerah inilah  yang merupakan daerah resapan air.

Iklim
Tipe iklim berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson termasuk tipe iklim C atau agak basah. Curah hujan bervariasi de- ngan curah hujan terendah sebesar 875 mm/tahun dan curah hujan tertinggi sebesar 2527 mm per tahun. Bulan basah terjadi pada bulan November sampai dengan Mei sedangkan bulan kering terjadi pada bulan Juni sampai dengan Oktober.  

Hidrologi  
Secara umum di wilayah Gunung Merapi terdapat 3 Daerah aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Progo (bagian barat), DAS Opak (bagian tengah) dan DAS Bengawan Solo (bagian timur). Sistem sungai yang terbentuk oleh ketiga sungai besar tersebut akan membentuk tiga bagian pola aliran sungai sebagai berikut  :  
a. Berawal dari kerucut Gunung Merapi, anak-anak sungai menyebar membentuk pola  aliran radial centrifugal.
b. Di bagian lereng kaki gunung, anak-anak sungai tersebut mengalir relatif sejajar menuruni lereng, membentuk pola sub parallel.
c. Seluruh anak sungai, masuk ke sungai utamanya di dataran alluvial kaki lereng volkanik yang membentuk pola aliran sub dendritik.  
 
Kawasan ini juga merupakan kawasan dengan cadangan air tanah yang melimpah dan banyak dijumpai mata air yang banyak dimanfaatkan untuk irigasi, perkebunan, peternakan, perikanan, obyek wisata dan juga untuk air kemasan.
Biotik
Taman Nasional Gunung Merapi memiliki tiga zona penyusun vegetasi, yaitu :
1. Zona atas; pada zona ini berlangsung proses xyrocere, yaitu suksesi primer yang terjadi pada hutan batuan kering, sehingga vegetasinya didominasi jenis lumut, rerumputan, herba dan perdu.
2. Zona tengah, merupakan hutan alam pegunungan tropis (Tropical mountain forest).
3. Zona bawah, merupakan zona interaksi antara manusia dan alam yang vegetasinya didominasi oleh tanaman de- ngan pola agroforestry, yang meliputi agroforestry pola rumput-rumputan, pola komoditi komersial, pola holtikultura, pola pangan dan pola kayu-kayuan.

Flora
Pada kawasan hutan Gunung Merapi dijumpai ± 72 jenis flora. Hutan primernya didominasi oleh jenis serangan (Castanopsis argentia),  hutan sekunder dan hutan tanamannya didominasi oleh jenis puspa (Schima walichii) dan pinus (Pinus merkusii).  Disamping itu pada kawasan hutan ini dijumpai jenis anggrek endemik dan langka, yaitu Vanda tricolor.

Jenis anggrek yang ada di kawasan ini tidak kurang dari 47 jenis, antara lain Dendrobium saggitatum, D. crumenatum, Eria retusa, Oboronia similis, dan Spathoglottis plicata.

Jenis-jenis lainnya, antara lain Acacia decurens, Bambusa spp, Albizia spp, Euphatorium inufolium, Lithocarpus elegans, Leucena galuca, L. leucoocephla, Hibiscus tiliaceus, Arthocarpus integra, Casuarina sp, Syzygium aromaticum, Melia azadirachta, Erytrina variegata, dan Ficus alba.

Disamping itu terdapat jenis tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti jenis rumput, Imperata cylindrica, Panicum reptans, Antraxon typicus dan Pogonatherum paniceum.
Fauna
Potensi fauna di kawasan Gunung Merapi mencakup mamalia, reptil dan burung.

Mamalia; beberapa jenis diantaranya, yaitu macan tutul (Panthera pardus), kucing besar (Felis sp), musang (Paradoxurus hermaprodus), bajing (Laricus insignis), bajing kelapa (Colosciurus notatusi), kera ekor panjang (Macaca fascilcularis), lutung kelabu (Presbytis fredericae), babi hutan (sus scrofa , S. vittatus), kijang (Muntiacus muntjak), dan rusa (Cervus timorensis).

Burung; Hasil inventarisasi tahun 2001 diketahui bahwa kawasan Gunung Merapi memiliki 99 jenis burung. Beberapa diantaranya memiliki status endemik,  antara lain  elang jawa (Spizaetus bartelsi), bondol jawa (Lonchura leucogastroides), burung madu jawa (Aethopyga mystacalis), burung madu gunung (A. eximia), cabai gunung (Dicaeum sanguinolenium), cekakak gunung (Halcyon cyanoventris), Gemak (Turnix silvatica) dan serindit jawa (Loriculus pusilus). Beberapa jenis lainnya, seperti elang hitam (Ictinaetus malayensis), jalak suren (Strurnus contra), betet (Psittacula alexandri), alap-alap macan (Falco severus) , elang bido (Spilornis cheela), dan walet gunung (Collocalia volcanorum).

Reptil; Jenis reptil, antara lain ular sowo (Dytas coros), ular gadung (Trimeresurus albobabris) dan bunglon (Goneocephalus sp.)
Wisata
Taman Nasional Gunung Merapi memiliki potensi wisata bernuansa volkan yang  sangat luar biasa. Beberapa tempat dan atraksi yang dapat dinikmati dan dikembangkan di kawasan ini, antara lain; Kawasan puncak merapi, atraksi panorama air terjun yang indah, area Jalur Treking Kinahrejo, arsitektur tradisional Jawa dan lain-lain.

Pengelolaan
Taman Nasional Gunung Merapi adalah taman nasional yang baru saja ditunjuk pada tahun 2004 lalu, sehingga belum memiliki unit pengelola sendiri dan pengelolaannya masih dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam DI Yogyakarta, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.  
  
Sementara ini, obyek-obyek wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Merapi dikelola oleh berbagai instansi meliputi Dinas pariwisata, Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, Swasta, dan masyarakat/Desa.

Dikutip dari berbagai sumber (Habarudin Aco/Staff LEMBAR Indonesia). 

» Read Full Article

Sekilas TNGH

Berawal dari kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH). Sejak tahun 1935, kawasan ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional, dengan luas 40.000 ha., dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH).  Ditetapkanlah SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, yang merupakan perubahan fungsi kawasan eks Perum Perhutani atau eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas disekitar TNGH menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan total luas kawasan menjadi 113,357 ha dan terletak di Propinsi Jawa Barat dan Banten meliputi Kabupaten Sukabumi, Bogor dan Lebak. Dimana, saat ini TNGHS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terluas di Jawa.

Dilihat dari bentuk kawasannya, TNGHS berbentuk seperti bintang atau jemari, sehingga batas yang mengelilingi kawasan ini menjadi lebih panjang. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Apalagi didalamnya  terdapat  beberapa enclave perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktivitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata.

Konon, banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi, sehingga menjadi tantangan pengelola, para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.

Menurut Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, TNGHS sebagai kawasan konservasi mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu : perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan menunjang pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan berkesinambungan, seperti : pengatur tata air dan iklim mikro, konservasi hidupan liar, tempat penelitian, pendidikan lingkungan, kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya.
 
Dimana secara nyata kawasan hutan TNGHS merupakan sumber air yang amat penting bagi masyarakat di sekitarnya termasuk kota-kota besar seperti : Bogor, Sukabumi, Tangerang, Rangkasbitung dan Jakarta. Serta menjadi tempat hidup masyarakat lokal Kesepuhan Banten Kidul, Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy, dimana telah terjadi interaksi masyarakat dengan hutan alam yang masih utuh secara turun temurun.
Topografi kawasan pada umumnya adalah bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Adapun curah hujan rata-rata 4000 - 6000 mm/tahun, musim hujan terjadi pada bulan Oktober – April, musim kemarau berlangsung bulan Mei– September.  Dengan iklim yang basah, dari kawasan ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering dan mensuplai air ke wilayah sekitarnya. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang — Ciujung, Cidurian, Cisadane, Cimadur dan Citarik maupun Citatih yang jauh lebih dikenal sebagai tempat wisata arung jeram.  

Diperkirakan lebih dari 1.000 jenis tumbuhan terdapat di kawasan TNGHS. Selain itu, tercatat 258 jenis anggrek, 12 jenis bambu, 13 jenis rotan dan jenis-jenis tanaman pangan, hias dan tanaman obat. Khusus di sekitar puncak Gunung Salak juga terdapat jenis-jenis tumbuhan kawah dan hutan lumut.

Adapun satwa yang hidup di TNGHS juga sangat beragam dan beberapa jenis di antaranya adalah jenis langka dan dilindungi, antara lain : Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata) dan Lutung (Trachypithecus auratus).

Kawasan TNGHS juga merupakan surga bagi berbagai jenis serangga yang unik dan indah. Saat ini di TNGHS juga tercatat 244 jenis burung di kawasan ini dan 32 di antaranya adalah endemik Pulau Jawa, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), dan Luntur Gunung (Harpactes reinwardtii).

Selain terdapat potensi flora, fauna, ekosistem hutan dan tradisi sosial budaya Masyarakat Kesepuhan Banten Kidul, Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy seperti Seren Taun, di dalam kawasan TNGHS juga terdapat potensi pariwisata alam lainnya, seperti : fenomena alam puncak gunung, air terjun, bentang alam, perkebunan teh dan situs-situs arkeologis.

TNGHS juga sudah dikenal wisata Trekking  antar lokasi objek wisata alam. Pengunjung dapat melakukan lintas alam dari satu lokasi ke lokasi lainnya, sambil melakukan pengamatan kehidupan liar, keseharian aktivitas masyarakat lokal seperti proses pembuatan gula aren, tanam padi, atau sekedar bertualang.

Upaya-upaya yang telah banyak dilakukan oleh Balai TNGHS dengan mitra-mitranya, tentunya belum akan memberikan manfaat yang lebih besar untuk penyelamatan kawasan TNGHS, apabila tidak didukung dan diikuti oleh komitmen secara terus menerus oleh peran aktif masyarakat sekitar kawasan maupun masyarakat lainnya untuk terus mendukung mempertahankan konservasi kawasan TNGHS.
(Dikutip dari berbagai sumber).

By : Akos / LEMBAR

» Read Full Article

Nagao International Workshop di Vietnam

Suatu kesempatan berharga bagi saya, Mutia Hardhiyuna (Universitas Negeri Jakarta) dan dua orang teman lainnya yaitu Hesti Purnamasari (Universitas Pakuan) dan Arief Syaifudin (Universitas Islam As-Syafi’iyah) karena kami terseleksi sebagai duta dari Indonesia dalam acara Nagao International Workshop NEF (Nagao Natural Environment Foundation) Scholarship Program yang telah berlangsung di Vietnam pada tanggal 21– 27 Januari 2007. Selain itu kami juga didampingi Bapak Aep Saefurahman (dosen Universitas Pakuan) dan Bapak Imran Tumora (komite NEF Indonesia).

Dalam workshop ini, kami dapat menjalin persahabatan dengan mahasiswa penerima beasiswa NEF scholarship program beserta dosen dan komite NEF dari lima negara di Asia Tenggara, diantarsanya : Malaysia, Filipina, Laos, Myanmar dan Vietnam. Dalam acara ini juga hadir komite NEF dari Jepang yaitu Mr. Suzuki dan Mrs.Yae Sano, para professor dari Vietnam National University serta panitia penyelenggara yaitu CRES (Centre for Natural Resourses of Enviromental Studies) dari Vietnam.

Workshop ini dikemas dengan berbagai aktivitas yang menarik seperti : traditional games, traditional culture, camp fire, city tour, farewell party dan kunju- ngan ke Wetland, Quat Lam Beach, kawasan mangrove (pengamatan burung), Cuc Phuong National Park (CPNP), penangkaran primata dan mamalia di CPNP serta menyaksikan atraksi menarik dari suku Meung yaitu suku asli Vietnam yang tinggal di dalam CPNP. Acara inti dari workshop ini adalah presentasi dan diskusi me- ngenai konservasi lingku-ngan dari mahasiswa masing-masing negara.

Kami berangkat dari Hanoi dengan bus ke CPNP. Di perjalanan terlihat benta- ngan sawah yang luas (Vietnam merupakan negara kedua penghasil beras tertinggi di dunia), serta danau-danau dan makam yang bercorak khas Vietnam yang terletak diantara sawah-sawah dan dikelilingi rumah penduduk.
Setibanya di CPNP kami berkunjung ke zona inti taman national dan melihat Ancient Tree. Sejak tahun 1962 ditetapkan Cuc Phuong sebagai Taman Nasional yang luasnya sampai saat ini yaitu 22.200 Ha. Pada malam hari di taman nasional diadakan pertunjukan pakaian dan budaya tradisional dari mahasiswa di setiap negara dan games for introduction. Keesokannya adalah presentasi dari panitia penyelanggara, pihak taman nasional, komite Nagao Jepang dan para profesor mengenai upaya konservasi lingkungan. Setelah itu, untuk mempererat keakraban maka diadakan traditional games dari masing-masing negara. Ternyata hampir semua negara memiliki permainan “Tapak Gunung” yang sangat familiar di Indonesia.

Maka tibalah saatnya pada acara utama yang diselenggarakan hari berikutnya yaitu presentasi dari mahasiswa. Mahasiswa Indonesia mendapatkan kesempatan pertama untuk mempresentasikan makalah nya yang berjudul “Javan-hawk Eagle Conservation in Indonesia”. Kami sangat senang dapat meng-informasikan mengenai makalah ini tetapi perasaan kami bercampur-baur dengan perasaan gugup ditambah dengan udara dingin sekitar 130C. Para audience sangat antusias. Pada saat diskusi, salah seorang mahasiswa dari Vietnam menanyakan apakah Elang Jawa dapat diletakkan di kebun binatang di Vietnam karena mereka ingin melihat Elang Jawa secara langsung. Selain itu, ada yang menanyakan pengaruh flu burung terhadap Elang Jawa.
Setelah itu, kami dapat mengetahui keadaan lingkungan di masing-masing negara melalui presentasi dari mahasiswa berbagai negara, Laos dengan sumber daya alam di negaranya dan Filipina dengan kesuksesan dari manajemen konservasi salah satu pulau yang memperkaya keanekaragaman hayatinya. Mahasiswa dari Malaysia, Vietnam dan Myanmar adalah mahasiswa postgraduate (pasca sarjana) sehingga mereka mempresentasikan hasil penelitian di negaranya masing-masing.

Selain itu terdapat aktivitas yang sangat menyenangkan yaitu kunju- ngan di luar taman nasional ke Wetland yang merupakan objek wisata yang sangat menarik dan dikelilingi dengan perahu tradisional. Kawasan ini merupakan kawasan rawa yang disekeli-lingnya terdapat pegunu- ngan batu yang berliku-liku. Terdapat sekitar 50 pegunungan batu dan gua yang sangat indah. Selain itu kami melakukan pengamatan burung di kawasan mangrove dengan perahu. Disini terdapat burung endemik yaitu Black Spoon Bills dan burung-burung air lainnya yang juga terdapat di Indonesia seperti Egretta. Mangrove di kawasan ini kanopinya tidak begitu rapat seperti di Indonesia dan banyak mangrove yang baru tumbuh. Setelah itu kami menginap di Saigoon Hotel di depan Quat Lam Beach.

Dari semua pengalaman tersebut, hal yang paling menarik adalah memiliki teman-teman baru dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan yang tidak jauh berbeda. Keakraban terjalin dan kenangan indah terjaga selamanya. Semoga dengan diadakan kegiatan seperti ini oleh NEF, maka dapat menggalakkan upaya konservasi lingkungan di setiap negara khususnya di Indonesia serta menjalin hubungan persahabatan antar universitas dari berbagai negara.

By : Mutia Hardhiyuna/NEF Scholar’s from UNJ

» Read Full Article

Suaka Marga Satwa Muara Angke Sangat Memprihatinkan

Ketika hendak mengunjungi kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke di Jakarta Utara, pertama kali yang terbayang adalah rimbunnya pohon-pohon besar dari berbagai jenis vegetasi. Ingin rasanya bisa menghirup udara sejuk dan segar di kawasan tersebut. Tetapi kenyataan yang ditemui sungguh memprihatinkan.
Kawasan hutan konservasi yang seharusnya dilindungi itu dalam keadaan rusak. Begitu memasuki pintu gerbang yang lokasinya berada di dalam perumahan mewah Pantai Indah Kapuk (PIK), terlihat tumpukan sampah berserakan di mana-mana. Sampah plastik dan serasah lain terlihat menyangkut di akar-akar mangrove, sampah memang menjadi faktor perusak utama kawasan tersebut. Sampah yang hanyut di sungai sulit dibendung.
Akibat banyaknya sampah yang menumpuk di kawasan itu, banyak pohon yang sulit tumbuh dengan baik. Ada tanaman pidada yang ditanam sejak tahun 1999, tetapi sampai sekarang tidak bisa tinggi karena perakarannya tak mendapat oksigen dengan baik.
Bukan hanya itu, tanah tempat tumbuhnya mangrove juga sudah berubah menjadi hitam pekat akibat tercemar minyak, oli, dan limbah domestik. Bahan-bahan pencemar masuk ke kawasan SM Muara Angke melalui Kali Angke. Bau busuk menyengat. Kondisi Kali Angke sendiri sudah sangat tercemar. Air sungai berwarna hitam pekat dan berbau busuk. Aliran sungai yang melintasi pinggiran SM. Muara Angke juga dipenuhi tumpukan sampah yang terapung-apung seperti "pulau" hanyut. Sampah yang dikirim dari hulu berikut bahan-bahan pencemar lainnya masuk ke kawasan SM. Muara Angke ketika air laut sedang pasang naik. Karena tidak pernah dibersihkan dan ditangani dengan serius, sampah yang menumpuk itu membusuk, sedangkan bahan pencemar yang masuk semakin mengendap ke dalam tanah.
Dalam kondisi lingkungan seperti itulah ratusan satwa liar yang sudah sulit ditemui di Jakarta harus menggantungkan hidupnya. SM. Muara Angke yang luasnya tinggal 25,02 hektar itu menjadi tempat hidup 76 jenis burung, 17 jenis di antaranya termasuk satwa yang dilindungi. Jenis burung yang paling mudah ditemui adalah kareo padi (Amaurrornis phoenicurus), kuntul (Egretta spp), pecuk (Phalacrocorax spp), belibis (Dendrocygna spp), dan raja udang (Todirhampus spp).
Di kawasan ini juga terdapat jenis burung endemik Pulau Jawa, yaitu bubut jawa (Centropus nigrorufus). Selain dilindungi undang-undang, burung ini juga dilindungi oleh aturan internasional karena termasuk dalam kategori rentan. Banyak peneliti dari luar negeri datang ke kawasan SM. Muara Angke untuk meneliti jenis burung tersebut.
Selain burung, satwa yang sering ditemukan adalah biawak (Varanus salvator) dan berbagai jenis ular seperti sanca (Python reticulatus) dan kobra (Naja sputatrix). Di tempat itu juga ada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang saat ini jumlahnya lebih kurang 60 ekor, serta berang-berang (Aonix cinnerea).
Sedangkan monyet ekor panjang yang biasanya berseliweran sekarang ini memilih bergerombol di pinggir hutan yang berbatasan dengan Kali Angke. Sebab, mereka mulai kesulitan mencari makan akibat banyak pohon mangrove yang rusak. Puluhan monyet itu harus mencari makan dengan cara mengais sampah yang ada di pinggir kali. Sering kali monyet-monyet itu memberanikan diri mendekati perahu-perahu nelayan yang bersandar di pinggir kawasan SM. Muara Angke. 

Mereka mencuri makanan dari nelayan. SM. Muara Angke merupakan bagian dari hutan Angke Kapuk yang total luasnya 1.154,88 hektar. Sebagian besar kawasan hutan Angke Kapuk sudah dikuasai PT. Mandara Permai.
Meski dikelola banyak instansi, kawasan SM Muara Angke dan kawasan hutan lindung lainnya di Pantai Jakarta dan Kepulauan Seribu belum juga menunjukkan perbaikan yang berarti.
Empat instansi yang mengelola kawasan suaka margasatwa dan hutan lindung di DKI adalah BKSDA DKI, Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi DKI, Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI dan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI.
Sayangnya, masing-masing instansi masih berjalan sendiri-sendiri. Kalau sudah begitu, kebijakan yang diturunkan di lapangan menjadi tidak konsisten, malah cenderung kacau karena masing-masing punya kepentingan.
Akankah kita biarkan terus kerusakan ekosistem mangrove di kawasan SM. Muara Angke ? Jawabnya, tergantung kepada kepedulian kita bersama. (dikutif dari berbagai sumber)

By : Handayani/Volunteer LEMBAR

» Read Full Article

Siapa yang Berhak atas SDA


Sumberdaya alam yang kaya secara teori harusnya memberikan kekayaan pula bagi masyarakat yang ada disekitarnya. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan teori tersebut, suberdaya alam yang kaya justru memakmurkan golongan tertentu yang dalam mata rantai ekonomi berada di urutan kedua dan seterusnya, sementara masyarakat sekitar hanya sebagai pekerja (buruh) yang mendapat nilai ekonomi paling sedikit.

Potensi kekayaan yang terkandung di wilayah pesisir berupa bahan bio aktif yang terkandung didalam tubuh biota laut merupakan bahan baku bagi industrui farmasi, kosmetika, pangan dan industri bioteknologi lainya sampai saat ini belum dikelola secara maksimal dan memberikan kesejahteraan bagi manusia disekitarnya. Ini merupakan ironi yang nyata sementara menurut pakar bahwa industri bio teknologi adalah merupakan industri masa depan.

Teluk Jor seperti juga kawasan pesisir timur kabupaten Lombok Timur menyimpan potensi sumberdaya alam yang tingi. Di sepanjang pantai Lombok Timur bagian timur adalah merupakan kawasan mangrove yang dapat memberikan nilai eklonomi yang besar bagi masyarakat sekitarnya. Potensi tersebut dalam beberapa tahun terakhir, mengalami ancaman serius berupa makin berkurangnya luasan kawasan mangrove akibat alih fungsi dan kerusakan lainya.
Kawasan teluk Jor terletak di desa Jerowaru saat ini merupakan kawasan yang di penuhi dengan keramba jaring apung tempat pembesaran udang Lobster laut. Secara ekonomi komoditas ini dapat memberikan kesejahteraan jika dinilai dari harga jual di pasaran.
Demikaian pula dengan kawasan mangrove di Gili sulat dan Gili trawang yang berada di desa Sugian dipandang sebagai sumber kebutuhan untuk kayu bakar dan pewarna jaring.

Ekonomi Konservasi
Aspek konservasi sering berbenturan dengan kepentingan ekonomi, Indonesia sebagai negara yang mempunyai keanekeragaman hayati yang tinggi mempunyai persoalan besar dalam ekonomi versus konservasi. Ada banyak konsep pendekatan pengelolaan PSDA yang coba dikembangkan baik oleh Pemerintah maupun LSM serta kearifan masyarakat lokal yang memang sudah ada sejak dulu, tetapi kembali ke persoalan kemajemukan budaya maka konsep yang telah ada hanya dapat dikembangkan di wilayah tertentu saja.


Mangrove sebagai fungsi penyangga kawasan pesisir tidak terkecuali dikawasan teluk Jor harusnya dapat dinilai secara ekonomi dalam jangka panjang oleh masyarakat sekitar sehingga pemamfaatan kawasan sekitar harus memperhatikan aspek keberlanjutan kawasan mangrove yang ada. Seperti pada umumnya di daerah pesisir Lombok timur kawasan mangrove banyak di konversi untuk tambak, Teluk Jor juga tidak lepas dari persoalan tersebut. Sebagian masyarakat sekitar memanfaatkan kawasan teluk tersebut untuk menangkap beberapa jenis ikan konsumsi maupun untuk pakan bagi Lobster dalam kejapung. Disamping itu fungsi kawasan mangrove bagi masyarakat nelayan kejapung adalah menekan laju suplai air tawar dan limbah secara langsung dalam teluk yang dapat mempengaruhi udang lobster yang berada dalam kawasan teluk.

Memaksimalkan Pengelolaan SDA
Hutan mangrove sebagai ekosistem utama pendukung kehidupan kawasan pesisir mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrient bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan berbagai jenis biota, penahan abrasi dan tsunami, penyerap limbah, dan lain sebagainya. secara ekonomis hutan mangrove berfungsi penyedia kayu, bahan obat-obatan, makanan.
Masyarakat kawasan teluk Jor telah lama mengembangkan usaha pembesaran udang lobster air laut. Sejauh ini usaha yang mereka kembangkan bersifat statis ini dapat dilihat dari kondisi ekonomi masyarakatnya. Seharusnya usaha ini telah memberikan kesehjahteraan yang baik bagi mereka. Hal ini dapat dimaklumi kerena pendekatan teknologi bagi mereka tidak ada sama sekali. Dalam melakukan usaha ini mereka hanya mengandalkan keburuntungan semoga bibit yang mereka tanam dapat hidup semua. Sementara kawasan mangrove yang berada di Gili Sulat dan Gili Trawang belum dikelola secara maksimal untuk wisata oleh masyarakat sekitarnya. Pengelolaan kelembagaan untuk ekowisata perlu dibangun dengan melibatkan peran aktif masayarakat sekitarnya.

Kesadaran Konservasi
Ekosistem yang baik adalah adanya sebuah kesimbangan alam. Manusia sangat tergantung dengan kondisi alam. Hal inilah yang harus ditekankan kepada masyarakat bangsa ini yang sangat bergantung dengan kekayaan dan keramahan alam. Pelestarian lingkungan megandung 2 aspek penting yaitu pelestarian fungsi dan pelestarian lingkungan itu sendiri. Dalam kerangka program koservasi mangrove di Lombok Timur, Lembar lebih menekankan pada aspek pelestarian fungsi kawasan mangrove untuk meningkatkan kesehjaheteraan masyarakat sekitarnya.

» Read Full Article