Suaka Marga Satwa Muara Angke Sangat Memprihatinkan

Ketika hendak mengunjungi kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke di Jakarta Utara, pertama kali yang terbayang adalah rimbunnya pohon-pohon besar dari berbagai jenis vegetasi. Ingin rasanya bisa menghirup udara sejuk dan segar di kawasan tersebut. Tetapi kenyataan yang ditemui sungguh memprihatinkan.
Kawasan hutan konservasi yang seharusnya dilindungi itu dalam keadaan rusak. Begitu memasuki pintu gerbang yang lokasinya berada di dalam perumahan mewah Pantai Indah Kapuk (PIK), terlihat tumpukan sampah berserakan di mana-mana. Sampah plastik dan serasah lain terlihat menyangkut di akar-akar mangrove, sampah memang menjadi faktor perusak utama kawasan tersebut. Sampah yang hanyut di sungai sulit dibendung.
Akibat banyaknya sampah yang menumpuk di kawasan itu, banyak pohon yang sulit tumbuh dengan baik. Ada tanaman pidada yang ditanam sejak tahun 1999, tetapi sampai sekarang tidak bisa tinggi karena perakarannya tak mendapat oksigen dengan baik.
Bukan hanya itu, tanah tempat tumbuhnya mangrove juga sudah berubah menjadi hitam pekat akibat tercemar minyak, oli, dan limbah domestik. Bahan-bahan pencemar masuk ke kawasan SM Muara Angke melalui Kali Angke. Bau busuk menyengat. Kondisi Kali Angke sendiri sudah sangat tercemar. Air sungai berwarna hitam pekat dan berbau busuk. Aliran sungai yang melintasi pinggiran SM. Muara Angke juga dipenuhi tumpukan sampah yang terapung-apung seperti "pulau" hanyut. Sampah yang dikirim dari hulu berikut bahan-bahan pencemar lainnya masuk ke kawasan SM. Muara Angke ketika air laut sedang pasang naik. Karena tidak pernah dibersihkan dan ditangani dengan serius, sampah yang menumpuk itu membusuk, sedangkan bahan pencemar yang masuk semakin mengendap ke dalam tanah.
Dalam kondisi lingkungan seperti itulah ratusan satwa liar yang sudah sulit ditemui di Jakarta harus menggantungkan hidupnya. SM. Muara Angke yang luasnya tinggal 25,02 hektar itu menjadi tempat hidup 76 jenis burung, 17 jenis di antaranya termasuk satwa yang dilindungi. Jenis burung yang paling mudah ditemui adalah kareo padi (Amaurrornis phoenicurus), kuntul (Egretta spp), pecuk (Phalacrocorax spp), belibis (Dendrocygna spp), dan raja udang (Todirhampus spp).
Di kawasan ini juga terdapat jenis burung endemik Pulau Jawa, yaitu bubut jawa (Centropus nigrorufus). Selain dilindungi undang-undang, burung ini juga dilindungi oleh aturan internasional karena termasuk dalam kategori rentan. Banyak peneliti dari luar negeri datang ke kawasan SM. Muara Angke untuk meneliti jenis burung tersebut.
Selain burung, satwa yang sering ditemukan adalah biawak (Varanus salvator) dan berbagai jenis ular seperti sanca (Python reticulatus) dan kobra (Naja sputatrix). Di tempat itu juga ada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang saat ini jumlahnya lebih kurang 60 ekor, serta berang-berang (Aonix cinnerea).
Sedangkan monyet ekor panjang yang biasanya berseliweran sekarang ini memilih bergerombol di pinggir hutan yang berbatasan dengan Kali Angke. Sebab, mereka mulai kesulitan mencari makan akibat banyak pohon mangrove yang rusak. Puluhan monyet itu harus mencari makan dengan cara mengais sampah yang ada di pinggir kali. Sering kali monyet-monyet itu memberanikan diri mendekati perahu-perahu nelayan yang bersandar di pinggir kawasan SM. Muara Angke. 

Mereka mencuri makanan dari nelayan. SM. Muara Angke merupakan bagian dari hutan Angke Kapuk yang total luasnya 1.154,88 hektar. Sebagian besar kawasan hutan Angke Kapuk sudah dikuasai PT. Mandara Permai.
Meski dikelola banyak instansi, kawasan SM Muara Angke dan kawasan hutan lindung lainnya di Pantai Jakarta dan Kepulauan Seribu belum juga menunjukkan perbaikan yang berarti.
Empat instansi yang mengelola kawasan suaka margasatwa dan hutan lindung di DKI adalah BKSDA DKI, Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi DKI, Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI dan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI.
Sayangnya, masing-masing instansi masih berjalan sendiri-sendiri. Kalau sudah begitu, kebijakan yang diturunkan di lapangan menjadi tidak konsisten, malah cenderung kacau karena masing-masing punya kepentingan.
Akankah kita biarkan terus kerusakan ekosistem mangrove di kawasan SM. Muara Angke ? Jawabnya, tergantung kepada kepedulian kita bersama. (dikutif dari berbagai sumber)

By : Handayani/Volunteer LEMBAR

0 comments:

Post a Comment